Tuesday, January 29, 2008

I like you the most...

          
 
Ardian:  Sunset at St. George Island 2008 
 
Kemarin dalam perjalanan pulang sekolah, Ardian bertanya,
            “Mommy, do you know…” *menyebut nama mainan, whatever…*
            “No.  Tell me.”
            “Oh, it’s a toy that I saw on tivi.”

            “Do you like your laptop?” Tanyaku.  Natal kemarin dia dapat hadiah laptop dari salah seorang client-ku yang sangat murah hati.  *Semoga client-ku panjang umur dan murah rejekinya.*

            “Yes.  But I like it only a little bit.  Not too much.” Aku perhatikan memang belakangan ini laptopnya banyak nganggur di case-nya.
           
            “What do you like the most?” tanyaku setengah mengantisipasi jawabannya. Hm! Uh-huh.  Gampang ditebak.  Apa lagi kalau bukan game-nya.  Play station II-nya.

            “I like you, Mommy.  I like you the most...” katanya tanpa ambil nafas dan waktu untuk berpikir.
….
….
…. !

            Hiksss…!!
            Mataku berkaca-kaca.  Pandangan langsung kabur. Tak bisa ditahan, air mata mulai berlinangan.  Kalau aku tidak sedang memegang setir, pasti sudah aku rengkuh dia dalam pelukanku.
            “I like you, Mommy.  I like you the most...”  ulangku setengah berbisik pada diriku sendiri.  Oh, buah hatiku….


            PADAHAL ini yang terjadi malam sebelumnya… :


            Aku sudah jutek menunggu dia di kamar mandi, siap dengan secangkir air dan sikat gigi di tangan.  Setelah setengah teriak memanggil “Ardiaaan…!” untuk ke sekian kalinya, akhirnya kepalanya nongol juga dengan muka bete.

          
            “I DON’T want to brush my teeth! I DON’T want to go to bed!” jeritnya, lalu ancang-ancang untuk lari menjauh. 

            “Well, it’s almost ten o’clock.  It’s late.  Let’s brush your teeth” kataku tegas, sambil kutangkap dan kutarik tangannya supaya mendekat ke wastafel. 

            Kudekatkan cangkir berisi air ke mulutnya, tapi dia tepiskan hingga sebagian airnya memercik ke mukaku.  Secara reflex air sisa di  cangkir itu aku guyurkan ke mukanya.  Dia melongo.  Aku melotot.  Tangisnya langsung meledak keras,
            “Waaaaaaah…!.”
            “Don’t do that again!” hardikku.
            “Don’t push the cup when Mommy’s going to brush your teeth!” lanjutku dengan marah.
            “Waaaaaah….” Dia masih terus menangis.


            Kusambar handuk dari gantungan, aku lap mukanya yang basah kena air untuk gosok gigi - yang kini telah bercampur dengan air matanya.  Kubuka bajunya yang kecipratan air, dan kupakaikan piyama-nya.

            Menyesal.  Hatiku hancur berkeping-keping mendengar tangisnya yang begitu merana.  Masih berlutut - setelah selesai menolongnya berpakaian, dengan diam kurengkuh tubuh kecil itu dalam pelukanku.

            “I love you, Mommy...” katanya sambil masih terisak-isak memelukku.
            “I love you too, Baby...” kucium lembut keningnya, rambutnya, dan kuusap-usap punggungnya.  Tubuh mungil itu berguncang-guncang mencoba menahan tangisnya, melekat di dadaku.
            “I’m sorry…”
            “I’m sorry, too…”
….

            Dari kaca spion kulihat wajah malaikat kecilku.  Tenang duduk di car seat-nya, memandang jendela.  Cahaya matahari sore menerpa, membuat wajahnya bersinar dan rambutnya berkilauan. Matanya kelihatan sangat bening.

            “I like you, Mommy.  I like you the most...”  Kuulang kalimat itu berkali-kali di hatiku. Senyumku mengembang.  Rasa hangat menjalar di mataku.. 
 

Tuesday, January 8, 2008

Ardian and Mom


Selama sebulan mudik, hanya sehari saja aku bisa berduaan sama Ardian! Jalan-jalan berdua, ke Kelapa Gading Mall dan mampir ke studio foto! Maklum emaknya Ardian jarang difoto, apalagi sama Ardian. Anyway ini dipajang karena ada permintaan khusus... hehehe... so, here it is... Ardian and Mom.

Selama sebulan mudik, hanya sehari saja aku bisa berduaan sama Ardian! Jalan-jalan berdua, ke Kelapa Gading Mall dan mampir ke studio foto! Maklum emaknya Ardian jarang difoto, apalagi sama Ardian. Anyway ini dipajang karena ada permintaan khusus... hehehe... so, here it is... Ardian and Mom.





Selama sebulan mudik, hanya sehari saja aku bisa berduaan sama Ardian! Jalan-jalan berdua, ke Kelapa Gading Mall dan mampir ke studio foto! Maklum emaknya Ardian jarang difoto, apalagi sama Ardian. Anyway ini dipajang karena ada permintaan khusus... hehehe... so, here it is... Ardian and Mom.

Monday, March 19, 2007

Ardian, bunga di taman hati






Anak lelaki, haruskah tak perduli
pada wangi bunga di musim semi
pada azalea, lantana, camelia, mawar dan melati
yang tumbuh di taman asri

Anak lelaki,
haruskah tak punya kelembutan hati
selembut cahaya pagi
yang menyinari titik embun
di pinggiran daun bunga musim semi

Anak lelaki,
mendekatlah, dengarlah bisikan angin menyapa pagi
bagai nyanyian para peri
yang menari-nari di kuntum-kuntum bunga ini
hiruplah aroma pagi, peluklah cahaya matahari
dalam kalbumu, dalam senyummu
goreskan semua warna pelangi
di kilatan matamu nan jeli
dan simpanlah erat bersama angan dan mimpi
agar hari-harimu tak lagi sepi
kala ibunda tak lagi ada di sini
bersamamu menikmati pagi musim semi.

Tallahassee di Musim Semi
For Ardian, with love.
(March 2007)

Friday, March 9, 2007

Hari ini ultah sahabatku, Kristin Corbin...

Start:     Mar 10, '07 12:00a
Location:     Tallahassee, Florida.


Kalau kita hidup di Amerika, adalah “luxury” untuk punya pembantu atau nanny - dan kebanyakan dari kita nggak punya kemewahan itu. Tapi kalau punya teman seperti Kristin, betul-betul terasa keberadaannya, misalnya;

- Kalau aku pas harus traveling untuk pekerjaanku, dia selalu bisa aku andalkan untuk jaga Ardian. Kadang kalau suamiku juga traveling untuk pekerjaannya, Ardian malah seringkali nginep di rumahnya. Meskipun ada beberapa teman lain yang bisa jaga, tapi officially dia yang jadi baby sitter-nya Ardian dari sejak bayi sampai sekarang. Bahkan kalaupun dia harus volunteer di kantor sekolah anaknya, dia bela-in bawa Ardian.

- Bukan cuma Ardian dan Melissa saja, tapi anak-anak “camp” ku juga dijaganya, diajarin bikin scrapbook, dibikinkan program yang menarik jadi anak2 nggak kehilangan aku kalau aku harus traveling saat aku menjalankan summer camp.

- Bisa diandelin untuk jaga rumah, artinya kalau aku tinggal bepergian, rumahku selalu di check siang malam. Jadi nggak kepikiran kalau rumahku bakal kemalingan atau kebakaran…

- Kalau aku lagi nggak mood menjalankan profesi jadi Inem, dia bakalan dengan gesit beres-beres rumahku, barang yang nggak perlu langsung dibuang di tempat sampah, seringkali yang masih aku perlukan juga dibuang di tempat sampah.

- Tiap ulang tahunku, selalu dibikinkan surprise party (jadi nggak surprise lagi…)

- Kalau aku sakit – Alhamdulillah jarang – dia bikinkan aku dan keluargaku makanan komplit dari menu utama sampai dessert-nya karena dia pinter masak.

- Dia jadi supporter utamaku (co-founder) mendirikan perkumpulan wanita internasional (Women of the World Society) atau singkatnya WOWS… yang memang anggota-anggotanya … woooow…

- Kegiatan apapun yang aku lakukan, nggak pernah lepas dari keikutsertaannya (ikut campur…? Hehehe…) Dia selalu sibuk mengiklankan dan mencuatkan aku dalam berbagai kegiatan. Kebanyakan dari client-ku adalah hasil dari kerja kerasnya “menjual” aku. Maksudku, jasaku…

- Kalau aku cerita tentang “sahabatku” di Indonesia, dia akan bilang “I am your best friend!” Duh segitunya… hehehe. Tapi meskipun kadang terasa posesif terhadap aku, keberadaannya dalam hidupku memang membuat beban hidupku di negara orang ini terasa lebih ringan…

- Masih banyak lagi tentang Kristin… bukan saja sebagai baby sitter atau nanny, cleaning service, promotor, supporter, advertiser, dan berbagai topi lain yang dikenakannya - tapi yang utama dia adalah teman baik yang membutuhkan aku untuk jadi temannya. It's a great feeling to be needed...

- Dan yang membuat aku tersentuh adalah tulisannya bertahun-tahun yang lalu, yang masih aku simpan ini:


Sunday, October 14, 2001 1:15 PM



Ari,
You remind me of the beautiful little Rainbow Fish.
She shares her sparkling shiny scales with the other fish, making friends with them and making them happy.
She is unselfishly sharing parts of herself with others.
That is how you are.
First of all, you are beautiful. Then...
You are always busy going around doing things for people, making people happy and sharing with them & making friends.
Thank you for all the nice thoughtful thing you do.
I appreciate all your energy, eagerness, thoughtfulness, and kindness that you give me and everyone else.
I hope we will be friends for a lifetime.
Love, Kristin

Hiiiks... pas dibaca lagi, masih terharu juga.
Happy birthday, Kristin... and many more...





Tuesday, November 14, 2006

Cerita yang tersisa... (panenannya)

 


Tentang jeruk keprok


Memang pas banget dengan Lebaran, jeruk keprok-ku yang aku tanam di halaman dua tahun lalu kali ini berbuah lebat dan siap untuk dipanen.  Pohonnya kecil, bahkan diameter terbesarnya saja tidak sampai se pergelangan tanganku.  Rantingnya juga kecil.  Jadi dengan berjubelnya jeruk, dahannya dan beberapa buahnya sampai menyentuh rumput. Di sini jeruk keprok disebutnya "Satsuma"  yang masa berbuahnya waktu Summer dan mulai ranum saat Fall. Pohonnya bertahan saat Winter, asal pas cuaca sedang dingin ber-es pohon-pohon kecil dan perdu yang kita sayangi seperti itu diselimuti dengan selimut khusus untuk tanaman supaya tidak terbakar kedinginan.


Jeruk keprok ini tadinya hanya maksimum berbuah 7-8 biji saja waktu ditanam di pot, dua tahun lalu dipindah ke halaman lalu berbuah 42 butir (daddy-nya Ardian yang mendata!) Jeruk ini besar-besar, manis, dan tidak berbiji.

Aku hitung-hitung berapa jumlah orang Indonesia di sini dan aku rasa jeruknya cukup untuk dibagi-bagikan kepada mereka.  Aku bilang pas sekali dengan Lebaran dan karena kita kumpulnya pas Lebaran, maka itulah saatnya untuk panen jeruk.  Soalnya nggak lucu juga kalau harus driving keliling kota ke rumah teman-teman untuk nge-drop satu butir jeruk saja.  Teman-teman memetik jeruk sendiri, dan seru juga, karena kelihatannya orang "nggak tega" untuk memetik jeruk dari pohon sekecil itu... tapi buahnya betul-betul menantang!  Maka satu persatu buah berpindah kepemilikannya.


Halaman depan rumah kami - seperti juga halaman rumah semua orang di perkampungan kami, tidak berpagar.  Jadi kalau orang yang lewat di jalan, atau tukang sampah yang sedang tugas ambil tong sampah, tukang pos, dan lain-lain - akan dengan mudah bisa memetik jeruk-jeruk itu.  Tapi aku perhatikan, dari sejak suamiku TB (Tuan Besar) iseng mendata populasi pohon kecil itu  - sampai hari ini tidak ada orang yang memetik tanpa sepengetahuan kami.


Rasanya senang, atau mungkin tepatnya bahagia... punya pohon kecil tapi bisa berbagi manisnya dengan banyak orang.  Dari tetangga sebelah rumah, gurunya Ardian di sekolah, sahabat dan teman-teman berorganisasi, clients, komunitas Indonesia di sini, dan tentunya keluarga kami sendiri.  Rasanya bangga melihat hasil panenan pohon jeruk keprok kecil kami.  Padahal tiap minggu kami bisa ke supermarket dan beli sekarung jeruk dengan harga murah.  Tapi rasa jeruk dari pohon sendiri, lebih dari sekedar uang.  Damai dan bahagia.


Dan bahagia itu, kalau tiap hari Tuan Besar mau berangkat ke kantor, mampir ke pohon dulu dan petik satu untuk lunch-nya.  Dan bahagia itu, tiap hari sepulangnya dari sekolah Ardian, aku gelar comforter di halaman dekat pohon kecil itu.  Lalu aku tolong buah hatiku untuk memetik satu-dua butir jeruk dan mengupasnya. Lalu ia akan membagi potongan jeruk yang sudah dikupas, "One for you, one for me" dan aku tangkap jari-jari kecilnya dengan mulutku waktu ia mencoba untuk menyuapiku dan dia tertawa-tawa geli.  Dan beberapa saat setelahnya kami akan rebahan di selimut memandang langit biru menghitung pesawat yang lewat sambil berbagi cerita. 


Dan bahagia di balik sebuah jeruk itu adalah karena bisa mensyukuri nikmatnya hadiah Lebaran ini.  Begitu sederhananya...


 

Panenan Ardian - Jeruk Keprok


Jeruk keprok ini tadinya berbuah 7-8 biji waktu ditanam di pot, dua tahun lalu dipindah ke halaman lalu berbuah 42 butir (Daddy-nya Ardian yang mendata!). Jeruk ini besar-besar, manis, dan nggak berbiji.

Friday, May 12, 2006

Di penghujung musim semi


Setelah azaleas merah, putih, pink, berguguran tak bersisa lagi
gardenia mulai bermekaran menghiasi halaman di penghujung musim semi

Sehabis hujan yang kukira tak kan berhenti
yang gemericiknya datang tengah malam
gardenia di halamanpun mulai bermekaran
warnanya yang putih bersih
dan aaaaah....semerbak harumnya
yang memenuhi udara pagi yang bening
mengingatkan aku pada seribu melati
yang bertaburan di pelaminan

- Ari Peach -
Tallahassee, Spring 2006

Monday, May 8, 2006

Ardian's 4th Birthday at Home


Say cheeeeese.... !!

Hari Minggu, 7 Mei 2006, Ardian merayakan ulang tahun yang ke-4.
Ultah Ardian kali ini rada heboh. Rencananya mau bikin di playground-nya Winthrop Park - biar anak-anak bebas lari-lari dan main. Lagipula Mamanya Ardian mau simple aja, soalnya lagi maleeesss... (what else?) lagi nggak kepengen beres-beres rumah dan masak-masak. Tapi apa yang terjadi? Hujan, tentu saja!! Waaaks...!! Padahal sehari sebelumnya panasnya udara kayaknya enak banget buat anak-anak untuk terjun ke kolam renang...
Sekalinya pengen bikin party di taman, kehujanan... hiks...

Memang harus bikin party di rumah kok, kata Yang Di Atas. Party di rumah, mau nggak mau memang nggak se-simple kalau kita bikin party di Park. Maklumlah bukan cuma served cake dan ice cream lagi he..he..he... tapi harus ngundang nasi dan semua temen-temennya nasi... khususnya yang namanya ikan teri balado... duuuh... ngiler lagi deh nih.

Alhamdulillah rame juga dengan temen-temen Ardian yang datang - meskipun hujan nggak mengurangi semangat berulang tahun... Happy birthday my love...

Monday, April 24, 2006

Panenan Ardian, hasil kebun sendiri...


Panen pertama!!! Horeee...!!!

Di Tallahassee banyak tumbuh pohon "Loquat" yang asal muasal nenek moyangnya berasal dari daratan Cina Selatan. Katanya mujarab untuk obat batuk (selain obat lapar). Pohon yang tumbuh di samping kanan halamanku ini masih kecil dan tidak pernah mati meskipun saat winter biasanya tanaman lain mengering pohon ini tetap segar. Niatnya tanam pohon ini supaya kalau pohonnya agak besar bisa meneduhi jendela kamar Melissa yang pas Summer biasanya bukan kepalang panasnya. Keanehan loquat, saat Fall/Autumn dimana daun2 dari pohon berguguran, justru mulai berkembang. Pohon lain berbuah di musim panas, loquat ini berbuah di musim semi - barengan dengan kembang-kembang spring di halamanku seperti azaleas, camelias, wisterias...

Nggak tahu bahasa Indonesianya apa, Loquat mengingatkan aku pada tekstur buah sawo - hanya lebih kecil dan warnanya kuning-orange dan kadang kemerahan. Ada sedikit rasa kecut yang bikin buah ini jadi lebih segar dibanding dengan sawo. Mungkin kalau rasa, padanannya lebih ke buah peach.

Friday, April 14, 2006

Babysitting Emmily


 


Minggu lalu, aku diminta teman untuk babysit anak-anaknya.  Yang besar seumuran Ardian namanya Timothy, dan yang kecil umur 8 bulan namanya Emmily. Emmily sangat ramah. Begitu aku ulurkan kedua tanganku untuk menggendongnya, dia senyum lebar, matanya berbinar-binar dan terus lonjak-lonjak di dadaku.  Kalau bisa, nggak akan aku lepaskan dia dari pelukanku.  Kulitnya yang lembut, badannya yang mungil, wajahnya yang innocent.  Segalanya yang aku sukai dari bayi.  Aku memang bayiholic.  I am addicted to bayi. 


Sampai pernah begitu kepinginnya punya bayi (mulai terasa kesepian karena Melissa sudah mulai sekolah di Kindergarten) sambil jalan pagi keliling perkampunganku aku mampir ke day care di kampungku ngelamar kerja di tempat khusus bayi.  Waktu itu rasanya aneh juga begitu cepat mereka terima lamaranku - ternyata nggak banyak orang yang mau kerja di bayi department!  Katanya nggak fun... Padahal satu kebahagiaan yang luar biasa buat aku, take care bayi.  Apalagi kalau ada bayi nangis, terus aku timang-timang di pelukanku terus tangisnya berangsur diam... sampai dia ketiduran atau mulai menampakkan senyumnya.  But don't get me wrong.  Aku bukan bayi charmer.  Ada juga bayi yang begitu aku pegang langsung nangis kenceng minta emaknya dikembalikan... hiks.  Rasanya patah hati deh.


Beberapa jam khususnya bersama Emmily, bikin naluri keibuanku muncul mengharu biru seperti layaknya ibu yang baru punya bayi lagi.  I wish I can have more babies...


Sunday, March 12, 2006

Are You My Mother? (1)

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:PD Eastman
Ini Baby Bird, favorite-nya Ardian.

"I did have a mother," said the baby bird.
"I know I did. I have to find her. I will. I WILL!"
Terus diperjelas oleh Ardian dengan "HUMPH!!"

Sunday, February 19, 2006

Doa ibu....

     "Ardian, today is Kakak's birthday, OK?" Kataku sambil memakaikan sepatu Ardian.
     "OK" jawabnya manis.
     "Kakak nanti tiup lilin, OK?"
     "OK" jawabnya lagi.
     "Ardian nggak boleh tiup lilin Kakak, OK?"
     "But I want tiup lilin..."
 
     Setiap ada ulang tahun temannya, selalu aku wanti-wanti begitu sama Ardian: "Nggak boleh tiup lilin di cake orang lain".  Bukan hanya di ulang tahun temannya saja, kalau Ardian diajak makan ke restoran - dan kalau kebetulan ada yang sedang ulang tahun di restoran itu, seringkali malu-maluin soalnya hobinya tiup lilin, rebutan sama yang punya cake (yang ultah). 
 
     Bayangkan, begitu yang di meja sebelah selesai nyanyi "Happy Birthday" Ardian cepat-cepat turun dari kursinya lari ke meja sebelah dan secepat kilat wuuuushh... tiup lilinnya!  Karuan saja yang berulang tahun di sebelah itu jadi teriak histeris nangis setinggi langit  karena belum juga dia selesai "wishes"-nya.... lilinnya sudah padam.  Sudah keduluan ditiup sama Ardian.  Gimana wishes-nya mau come true?
     Biyuuung, duh gusti dewo jagat batoro sing maha agung.... anakku ini kelakuannya kok bisa kayak bandit gitu gimana....  Jan tenan gak mriyayeni koyo' mama-ne sing super princess asli keturunan Sultan Agung...!  Acara keluarga jadi acara berantem  dan ujung2nya terus ada yang ngomel, siapa yang dulu kepengin punya anak (lagi...)? Huuuh...!!  Aduh, sutris aja nih bawaannya. 
 
     Tiap kali ada temannya yang ulang tahun, doaku sederhana:  moga-moga Ardian nggak tiup lilinnya...   Amin.
 

Saturday, February 4, 2006

"Snow Day" di Florida

Start:     Feb 8, '06 9:00a
End:     Feb 8, '06 1:00p
Location:     Celebration Pre-School, Tallahassee, Florida
Tiap tahun di sekolah Ardian ada acara "Snow Day".
Supaya anak2 mengalami bermain di salju - bukan hanya sekedar membayangkan dari apa yang dilihat di tivi.

Thursday, December 1, 2005

"Fire.. fff...fff..."

Tadi malam di luar dinginnya hampir membeku.  Ardian dan Melissa merapat ke depan perapian, dan terlibat dalam per-ngeyel-an.


Ardian:  "Pire..." katanya sambil nunjuk ke perapian.


Melissa:  "Fire..." katanya mengoreksi adiknya yang masih cedal.


Ardian:  "Pire..." matanya sungguh-sungguh bilang bahwa dia mengerti.


Melissa:  "Fire... fff.. fff.. fff.." mulutnya dimonyongkan sambil cium adiknya.


Ardian:  " Pire... shh.. shh.. shh..." menjelaskan sampai ludahnya muncrat.


Melissa:  " Fire! " katanya tegas.


Ardian:  " Api !" katanya lebih tegas lagi.  Ngapain susah-susah bilang "ef".


Buaaa... ha... ha... ha... ha...  my 3 year old baby is a bilingual already!!


 

Tuesday, November 29, 2005

"Nice..."

Intermezo:    Break sebentar dari neuromuscular-therapy flash cards...


Pagi tadi Ardian agak berontak dan sedikit rewel waktu dijemput Kristin, baby sitter-nya.  Dia teriak, "No Keeteen...!!  No Keeteen...!!  Mommy kaki!!"    Artinya, dia nggak mau Kristin pakaikan kaos kakinya, dan sepatunya. Ardian mau Mommy yang pakaikan. Dengan maksud supaya Ardian nggak teriak-teriak minta aku untuk memakaikan sepatunya, Kristin menasehati.


"Say nice", kata Kristin. 


"Nice",  jawab Ardian langsung.  Nurut, tapi tanpa mikir. 


 

Tuesday, November 22, 2005

Sunday, November 20, 2005

Jawabanku: Coklat!!

Ini ada pertanyaan dari salah satu "adikku",

 

> Kalo mbak Dian lagi sedih, ngapain aja?
> Kalo aku, rasanya kalo udah dipeluk sama seseorang yang aku sayang, hati ini
> damai....
> Kayak dulu, kalo lagi sedih, bawaannya pengen dikelonin sama ibu.
> Nggak usah cerita apapun, hati ini pasti akan terasa lapang.
> Sayang di sini nggak ada yang bisa memeluk aku.

 


Dan ini jawabanku:

Kalau aku:  Coklat. Coklat. Coklat. Terus tidur. Tidur. Tidur. Banyak orang lain yang biasanya nggak enak makan nggak enak tidur saat lagi sedih. Malah salah satu sahabatku jaman kuliah undergraduateku dulu, pernah lagi sutris dia ambil kampak terus pintu kamarnya dikampakin padahal pintu kamarnya kayu jati dengan ukiran Jepara.  Ouch!!  Ada teman kakakku kalau sedih terus berlembar-lembar uangnya disobekin kecil-kecil.... alamaaak!! Itu malah bikin orang lain yang lihat jadi sutris.

 

Kalau lagi sedih, sambil berlinangan air mata aku menyibukkan diri cari persediaan coklatku yang biasanya aku tebar sedikit di sana sedikit di sini, sampai aku puas aku sudah temukan semua terus aku habiskan. Later on, setelah banyak baca artikel dan diskusi tentang coklat barulah aku tahu bahwa coklat adalah salah satu makanan yang mengandung zat kimiawi yang bisa mempengaruhi mood and selera makan karena mengandung endorphins. Ini adalah zat kimiawi seperti opium yang memproduksi positive mood, pengurangan rasa sakit, dan mengurangi stress.  Ha...ha... jelas aku lebih suka makan berkarung-karung coklat daripada ngampakin pintu atau nyobekin duit....

 

Sejak umur 7 tahun aku sudah nggak punya ibu yang bisa aku pelukin or kelonin, jadi pelarianku yang paling aman adalah tidur dan lari ke alam lain.  Kalau lagi sutris, lagi patah hati, lagi marah....  setelah coklat habis, terus mandi bersih keramas dll,  aku biasanya tidur lamaaa...   Siapa tahu aku keterusan mati saat tidur (memang kalau sedih banget perasaan kepengin mati aja), yaaah... paling enggak aku sudah mandi 'gitu.  Dan kalau ada orang di sekitarku yang bisa mijetin, biasanya aku minta dipijetin karena biasanya kalau sutris bawaannya semua otot dan urat jadi kaku.  Lagipula supaya pengaruh coklat lebih cepat beredar di seluruh tubuh.  Rupanya biarpun rasanya mikirin hidup ini jadi setengah gila, ada juga setengahnya dari otakku yang waras...he..he...  Itu cerita saat sedih di jaman duluuu... waktu aku masih single, masih hidup sendiri, dan waktu masih jadi anak indekosan. 

 

Terapi sedih dan stress rupanya berkembang seiring bertambahnya usia mengikuti jaman dan situasi.  Sekarang setelah aku berkeluarga dan punya anak kecil, saat sedih-ku biasanya nggak bertahan lama.  Setelah menghabiskan air mataku di kamar mandi sambil berdiri lama di bawah pancuran air panas, aku main bersama Ardian dan mendengarkan celotehnya yang setengah nggak jelas itu.  And for some reason, Ardian-pun akan pick-up kesedihanku itu dan dia jadi lebih banyak dari biasanya - kepengin aku pelukin dan ciumin.  Itu saja sudah banyak sekali mengurangi sutris-ku.  Ciuman dan pelukan dari dan untuk Ardian bisa meningkatkan hormon oksitosinku - yang menurut para ahli bisa meningkatkan parental behaviorku.  Paling tidak, meskipun aku under a lot of stress - dengan membuka diriku untuk pelukan dan ciuman Ardian, aku telah mendapatkan terapi pengurangan tekanan batinku.  Dan sebaliknya untuk Ardianpun dia akan mendapatkan kenyamanan dan keamanan dalam pelukan dari ibunya.  Terapi yang menempatkan both Ardian dan aku dalam "win-win situation". 

 

Coklat dan pijet dan tidur masih jadi favorit terapiku, tapi terapi melukin Ardian itu yang paling manjur buatku.